:: Jangan Bersedih dengan Hadits Dhaif !

Salah satu senjata yang sering digunakan untuk menyerang Jamaah Tabligh adalah dengan mengatakan bahwa jamaah ini banyak menyandarkan gerakannya pada hadits-hadits yang dhaif (lemah) bahkan maudhu’ (palsu).

Pernyataan ini tidak sepenuhnya salah. Kitab Fadhail A’mal-nya Maulana Zakariyya Kandahlawi, disamping memuat hadits-hadits yang sohih dan hasan, juga memuat hadits-hadits yang dihukumi dhaif, tetapi bukan hadits maudhu’.

Permasalahan yang menyangkut hadits dhaif sebenarnya sudah selesai sejak berabad-abad lalu. Jumhur ulama telah sepakat bulat bahwa hadits-hadits dhaif boleh digunakan sepanjang untuk fadhilah amal, untuk memotivasi agar orang lebih terdorong untuk beramal, bukan untuk masalah aqidah dan menetapkan hukum syara’.

Ulama-ulama hadits terkemuka pada jaman dulu juga mencantumkan hadits-hadits dhaif ini ke dalam kitab-kitab hadits mereka, misalnya Sunan At-Tirmidzi, Al-Baihaqi, Al-Mustadrak Imam Hakim, Mishkat Al-Masabih dan lain-lainnya. Bahkan Imam Bukhori sendiri yang terkenal  dengan kitabnya yang paling sohih juga banyak memuat hadits dhaif dalam salah satu kitab beliau, Al-Adabul Mufrad.

Kitab-kitab tentang fadhilah amal seperti yang ditulis oleh Maulana Zakariyya Kandahlawi juga bukan barang baru yang pertama kali ditulis oleh ulama. Banyak kitab-kitab semacam yang juga telah ditulis oleh para ulama terdahulu semisal Kitabuz Zuhd oleh Abdullah bin Mubarak (Rahimahullah), Fadhailul Quran oleh Imam Shafi (Rahimahullah), Kitab Al-Adabul Mufrad oleh Imam Bukhari (Rahimahullah), Kitab Targhib Wat Tarhib oleh Imam Munziri (Rahimahullah) dan masih banyak lagi yang lainnya.

Mereka yang masih “usil” mempermasalahkan masalah hadits dhaif sebenarnya sudah ketinggalan jaman dan kayaknya perlu banyak membaca lagi khazanah ilmu hadits yang sebenarnya sangat luas.

Selain itu juga harus dibedakan pengertian antara hadits dhaif dan hadits maudhu’ (hadits palsu), hadits dhaif masih bisa dirunut sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW, meskipun ada beberapa catatan pada sanad (jalur periwayatan) maupun matan (content) haditsnya. Sedangkan hadits maudhu’ (palsu) disamping matannya sering bertentangan dengan nash yang sohih, sanadnya juga tidak dapat dirunut sampai kepada Rasulullah SAW.

Disamping itu juga harus dibedakan antara hadits maudhu’ dengan qaul (pendapat) para sahabat, tabiin, atau tabiut tabiin, serta ulama-ulama terkemuka lainnya yang punya otoritas keilmuan di bidangnya. Qaul-qaul tersebut tidak dapat dinisbatkan sebagai hadits tetapi banyak  diantara qaul-qaul tersebut yang mendasarkannya pada nash-nash yang sohih juga.

Dengan banyak melakukan kajian semacam di atas , insyaallah kita akan lebih terbuka dan tidak mudah memberi label “sesat” kepada satu orang, kelompok atau jamaah yang berbeda dengan kita yang kebetulan menggunakan hadits dhaif sebagai salah satu referensinya. Wallahu a’lam

25 Responses so far »

  1. 1

    thulabulilmi said,

    Imam nawawi rah, beliau mengatakan dalam kitab beliau, al adzkar dalam penggunaan hadits dhoif ini, bahwa para muhadditsin (ahli hadits), para ahli fikih dan lainnya memperbolehkan/mustahab menggunakan hadits dhoif dalam fadhoil amal dan targhib wa tarhib dan tidak memperbolehkannya jika hadits tersebut maudhu’…

    قال العلماءُ من المحدّثين والفقهاء وغيرهم‏:‏ يجوز ويُستحبّ العمل في الفضائل والترغيب والترهيب بالحديث الضعيف ما لم يكن موضوعاً‏(5)‏، وأما الأحكام كالحلال والحرام والبيع والنكاح والطلاق وغير ذلك فلا يُعمل فيها إلا بالحديث الصحيح أو الحسن إلا أن يكون في احتياطٍ في شيء من ذلك، كما إذا وردَ حديثٌ ضعيفٌ بكراهة بعض البيوع أو الأنكحة، فإن المستحبَّ أن يتنزّه عنه ولكن لا يجب‏.‏ وإنما ذكرتُ هذا الفصل لأنه يجيءُ في هذا الكتاب أحاديثُ أنصُّ على صحتها أو حسنها أو ضعفها، أو أسكتُ عنها لذهول عن ذلك أو غيره، فأردتُ أن تتقرّر هذه القاعدة عند مُطالِع هذا الكتاب

    ::> thulabulilmi :
    Jazakumullah Pak atas masukannya. Mudah-mudahan Allah SWT memberi kepahaman kepada kita semua atas ilmu-ilmu yang diturunkan Allah kepada kita melalui Rasul-Nya yang mulia

  2. 2

    Haitan Rachman said,

    Bahkan Imam Nawawi Rah sendiri tidak mempermasalahkan terhadap hadist dhoif dalam perkara dorongan untuk ditulis dan juga disebarkan. Sehingga beliau menjelaskan dengan jelas bahwa dalam kitabnya ada hadits dhoif, dan beliau menuliskannya dan juga menyebarkannya. Terimakasih.

    ::> Haitan Rachman
    Jazakumullah atas masukkannya. Insya allah menjadi lebih jelas mengenai kedudukan hadits dhaif ini

  3. 3

    sulton said,

    semoga Allah beri kekuatan dalam beramal

    ::> sulton
    Amiin, taqabbal duaana ya Allah

  4. 4

    johan said,

    Aneh sekali.
    Jika ada pertanyaan : Apakah anda sudah melaksanakan seluruh amalan yang ada dalam hadist2 yang shohih? apa jawaban anda. Jika sudah, maka layak anda mencari tambahan (fadhoil) dari hadist yang dhoif. Maka saya berkomentar sesempurna itukah amalan anda.
    Akhi fillah. Memang ulama terdahulu ada yang memperbolehkan menggunakan hadist dhoif untuk fadhoil amal. Tetapi perlu diingat bahwa mereka (rahimahulloh) memberikan syarat2 yang berat untuk bisa beramal dengan hadist dhoif. Tidak hanya sebatas “yang penting bukan hadist maudhu” saja.
    khusus untuk Imam Nawawi Rahimahulloh. Tanpa mengurangi rasa hormat kami atas kedalaman ilmu & ketawadhuan beliau, maka setahu saya ada sebagian ulama lain yang mengomentari bahwa “beliau terlalu memudahkan dalam masalah hadist dhoif”. Semoga bermanfaat.
    Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penyampaian.

    ::> johan
    Akhi.., saya ini apalah…, hanya manusia bodoh, tak punya ilmu, hanya ingin belajar dan meniru-niru, itu saja obsesi saya.
    Merinding saya…, kalau saya harus mengklaim bahwa amalan saya sudah sempurna, bahwa semua hadits shohih sudah saya amalkan dan lain sebagainya. Amalan-amalan yang kecil saja saya belum bisa melakukannya, apalagi harus mengklaim seperti itu… Naudzubillah min dzalik…
    Cuma menurut pandangan saya (dari beberapa keterangan yang pernah saya dengar dan baca), antara hadits sohih dan dloif itu tidak perlu dipertentangkan, keduanya saling melengkapi satu dengan yang lain. Kalau toh ada yang kelihatannya bertentangan, itu terjadi karena keterbatasan ilmu kita dalam mempelajari dan memahaminya…
    Wallahu a’lam

  5. 5

    thulabulilmi said,

    untuk saudara pengoment diatas..
    akhi, memang ulama seperti syaikh albani rah, yang menjadi rujukan dari “salafi”, beliau memiliki pendapat untuk “meninggalkan hadits dhoif secara mutlak” hal tersebut tercermin dalam ucapan beliau dalam kitab-kitab yang beliau karang…dan sebenarnya imamnya para hadits, yaitu imam bukhori rah beliau tidaklah seperti metodenya syaikh albani rah..bahkan faktanya Imam Bukhari rah memakai hadits dhoif dalam fadhoil A’mal, targhib wa tarhib yaitu dalam kitab adabul mufrod..Fakta dari imam bukhori rah memperbolehkan hadits dhoif dalam fadhoil amal, targhib dan tarhib malah tercermin dari kitab syaikh albani rah, yaitu shohih dan dhoif adabul mufrod..
    sebagai tambahan akan saya nukilkan bukti lainnya, bahwa imamnya para ahli hadits memperbolehkan penggunaan hadits dhoif dalam fadhoil amal, targhib wa tarhib..

    Takhrij dari seorang ulama atas kitab adabul mufrod imam bukhori rah
    Atsar ke 12, juga hadits ke 40, 56, 64, 80, 84 dalam sanandnya ada Abdullah bin Shalih Al Juhani yang dhoif. Atsar 14, 45 terdapat Abdurrahman bin Shabih yang dhoif. Atsar 23 terdapat Ali bin Al usain Waqid Al Maruzi, dhoifl hadits. Hadits 30 terdapat Al Hasan bin Bishri Al Hamdani dan Hakam bin Malik, kedua-duanta majruh.
    Hadits 43 terdapat Muhammad bin Fulan bin Thalhah, majhul. matruk, dhoif. Atsar 45 ada ubaidillah bin mauhab, Ahmad mengatakan la yu’raf (tidak dikatahui). Atsar 51 ada Abu Sa’ad Sa’id bin Matzaban Al Baqqal Al A’war, dhoif. Hadits 61 ada Hadzrad bin Utsman Abu Al Khitab As sa’di, dhoif. Hadits 63 ada Sulaiman bin Adam, dhoif, tidak tsiqah, matruk dan kadzab. Hadits 65 ada Muhamamd bin Abdul Jabar, majhul. Atsar 94 Al Washafi Ubaidillah Al Walid, dhoif. Hadits 111 ada Laits bin Abi Sulaim Al Qursyi Abu Bakar, dhoif. Hadits 112ada Abdullah bin Mushawir, majhul. Hadits 120 ada Abdullah bin Ziyad bin An’um Al Afriqi, ada yang mentsiqahkan dan ada yang mendhoifkan. Hadits 125 ada Abu Umar Al Manbahi An Nakha’i, majhul. Hadits 137 ada Yahya bin Sulaiman, mungkarul hadits.
    Ini berdasarkan kitab Fadhlullah As Shamad fi Taudhih Al Adab Am Mufrad, oleh Al Muhadits Fadhlullah Haidar Al Abadi Al Hindi.
    wallahu a’lam

    ::> thulabulilmi
    Jazakallahu atas masukannya. Mudah-mudahan bermanfaat. Bahwa perbedaan pandang terhadap suatu hadits itu bukan hal yang baru, sejak dulu para ulama pun kerap berbeda pendapat dalam melihat satu permasalahan. Ini adalah sebuah dinamika yang harus disikapi dengan rasa syukur dan penuh dengan kedewasaan

  6. 6

    lanjutannya sedikit:
    yang jadi masalah bukannya sudah mengamalkan hadits shohih semua apa belum,permasalahannya bukan disitu..namun bagaimana kita harus melihat kenyataan ini, bahwa para ulama salafush sholeh memang telah memberikan kemudahan bagi umat ini dengan memberikan kelonggaran-kelonggaran kepada umat ini..mari kita doakan mereka, semoga Alloh naikkan derajat disisi Alloh SWTatas perhatian dan kemudahan yang mereka lakukan kepada kita umat baginda rasulullah SAW.. amin
    wallahu a’lam

    ::> penuntut ilmu
    Kita memang harus terus belajar ya Pak. Dan sifat pertama, yang harus kita miliki yang sifat thulab itu ya….

  7. 7

    johan said,

    Akhi fillah sekalian,
    bukan saya menolak dalam masalah pengamalan hadist dhoif atau menyesatkannya. Bahkan saya berlindung pada dari hal tersebut, selama hadist tersebut tidak bertentangan dalil yang shohih. Yang jadi masalah adalah “sudahkah kita memenuhi persyaratan ulama sebelum melakukan amalan dengan dalil yang dhoif”.
    Kemudian dari sang penulis mengambil judul yang sangat sensitif seakan-akan ia menjadi garda terdepan dalam membela hadist dhoif dan merendahkan hadist yang lebih shohih. Dari judulnya saja sudah memotivasi orang untuk lebih mengutamakan dalil yang lemah untuk beramal. Dan ini sangat2 kita tentang. Dan lagi sindiran “Mereka yang masih “usil”… ” dari sebagian kalimat diatas bisa mendorong kaum muslimin untuk merendahkan muslimin lainnya dan meng-kotak2 mereka seakan kaum muslimin itu berbeda dengan kaum muslimin ini. Dan lagi, bisa jadi “Mereka yang masih “usil” ” -ini, pengetahuan agamanya lebih dalam dan lebih fakih dari kita.
    Tidak ada gading yang tak retak. Mohon maaf atas segala kesalahan. Semoga masukan ini bermanfaat. Nas’alulloh al’afiah

    ::> johan
    Akhi…, memang kita harus saling belajar dan menghargai satu sama lain. Tak ada kebaikan sedikit pun kita menganggap bahwa diri kita, jamaah atau aktivitias yang kita lakukan lebih baik dari yang dilakukan oleh orang lain.
    Mari kita dudukkan masalah sesuai dengan proporsinya, kalau untuk hadits yang dhaif saja kita harus junjung tinggi-tinggi, apalagi untuk hadits yang hasan dan sohih (yang derajatnya lebih tinggi), tentu harus kita junjung lebih tinggi lagi. Wallahu a’lam

  8. 8

    thulabulilmi said,

    Saudara pengoment (akh johan) menulis:
    bukan saya menolak dalam masalah pengamalan hadist dhoif atau menyesatkannya. Bahkan saya berlindung pada dari hal tersebut, selama hadist tersbut tidak bertentangan dalil yang shohih. Yang jadi masalah adalah “sudahkah kita memenuhi persyaratan ulama sebelum melakukan amalan dengan dalil yang dhoif”.

    saya (yang bodoh) berkomentar:
    alhamdulillah, telah jelas arah antum dalam masalah hadits dhoif ini

    Saudara pengoment (akh johan) menulis:
    Kemudian dari sang penulis mengambil judul yang sangat sensitif seakan-akan ia menjadi garda terdepan dalam membela hadist dhoif dan merendahkan hadist yang lebih shohih. Dari judulnya saja sudah memotivasi orang untuk lebih mengutamakan dalil yang lemah untuk beramal. Dan ini sangat2 kita tentang.

    saya (yang bodoh) berkomentar:
    saudaraku, hilangkanlah prasangka-prasangka yang tidak baik kepada saudara kita..Saya sendiri malah menganggap tidaklah mengapa memakai judul tersebut, karena tujuan para alim ulama memperbolehkan penggunaan hadits dhoif dalam fadhoil amal, targhib wa tarhib adalah supaya umat ini untuk lebih giat bersemangat dalam beramal, malah jangan sebaliknya yaitu bersedih..Namun, saya dan anda hanya berprasangka saja, alangkah lebih baiknya tanyakan langsung kepada penulis artikel ini..

    Saudara pengoment (akh johan) menulis:
    Dan lagi sindiran “Mereka yang masih “usil”… ” dari sebagian kalimat diatas bisa mendorong kaum muslimin untuk merendahkan muslimin lainnya dan meng-kotak2 mereka seakan kaum muslimin itu berbeda dengan kaum muslimin ini. Dan lagi, bisa jadi “Mereka yang masih “usil” ” -ini, pengetahuan agamanya lebih dalam dan lebih fakih dari kita.

    saya (yang bodoh) berkomentar:
    Saudaraku, saya malah berbeda pikiran dengan anda. Saya menganggap hal tersebut merupakan nasihat yang baik bagi kita semua, agar tidak mudah untuk memberikan vonis, cap yang tidak baik kepada saudara muslim lainnya..bukankah agama ini nasihah??

    Saudara pengoment (akh johan) menulis:
    Tidak ada gading yang tak retak. Mohon maaf atas segala kesalahan. Semoga masukan ini bermanfaat. Nas’alulloh al’afiah

    saya (yang bodoh) berkomentar:
    betul akhi, tidak ada gading yang tak retak..Muslim satu dengan muslim lainnya merupakan satu tubuh..apabila ada kekurangan/ada lobang dalam diri saudaranya, cobalah untuk menutupi kekurangan/lobang yang ada tersebut, jangan malah diperbesar lagi lobangnya… tolong menolonglah dalam kebaikan..
    mohon maaf apabila ada perkataan saya yang menyinggung saudara, tolong maafkan saudaramu ini..Dan terimakasih banyak atas nasihat antum kepada saya..semoga Alloh melembutkan hati antum…

  9. 9

    umar fadhli said,

    assalamu alaikum,
    salam kenal saya baru buka2 situs kebetulan nemu ini. terus terang saya gk paham masalah hadist. apalagi dakwah dan tabligh.
    masalahnya adalah ada banyak berita yang saya anggap miring mengenai ‘ maaf- tablighi ‘ ; ada yang mengatakan sesat- kufur, tidak berilmu dan lain. cape’ dech ngikutinya. namun pendapat saya mengenai -jamaah ini- adalah seperti ini:mereka ini tidak ada bedanya antara petugas ronda dengan polisi.apa kesamaannya? sama-sama menjaga keamanan.lalu dimana bedanya?jelas beda,…polisi adalah orang2 terlatih dan terdidik. paham masalah2 hukum negara.paling pandai mencari kebenaran dan fakta, punya fasilitas lengkap, senjata, kendaraan markas dll.
    tapi petugas ronda? mereka warga biasa, jangankan kendaraan dinas atau masalah hukum2 negara, cara membela diri dengan pentungan saja mereka banyak tidak bisa.tapi saya belum pernah baca bahkan mendengar berita polisi itu menjelek2an petugas ronda karena kekurangan mereka. yang ada polisi sangat terbantu dengan
    adanya petugas ronda. kembali ke persoalan ini, lalu bagaimana dengan orang2 yang telah berkomentar
    dengan hadist dan ayat alquran untuk memojokkan sesama muslim?
    sangat disayangkan sekali punya potensi bagus tapi tidak dapat menggunakannya pada tempatnya. orang ‘alim tidak akan bermanfaat bai umat jika tidak mau berdampingan dengan orang awam. orang awam ini rata – rata punya sifat seperti maaf- kambing- di dorong paksa mogok, di tarik paksa mogok. kalau orang baru kenal solat, puasa sudah dihantam dengan ungkapan sesat kafir ,
    yaach lama-lama orang lebih memilih pindah agama( naudzubillah….)

    ::> umar fadhli
    Paling enak memang mencari-cari kesalahan orang lain ya Pak. Padahal yang seharusnya dicari adalah kekurangan2 diri kita dan kebaikan2 orang lain. Sehingga kita bisa banyak belajar…

  10. 10

    umar fadhli said,

    mari saudara seiman, saling menutupi aib sesama muslim,
    saling mengisi hati2 yang awam dengan hidayah.
    jika memang ‘nolak hadist dhoif’ ya gk papa,…
    ayo gunakan hadist2 shohih untuk membujuk umat agar kembali taat.
    jangan gunakan hadist2 shohih untuk sarana menghujat.

    jutaan umat islam menunggu uluran tangan kita untuk bangkit dari kegelapan
    hidayah,

  11. 11

    Abu Tsabit said,

    Hadits Dhoif adalah hadits yang lemah hukum sanad periwayatnya atau pada hukum matannya, mengenai beramal dengan hadits dhaif merupakan hal yang diperbolehkan oleh para Ulama Muhadditsin,

    Hadits dhoif tak dapat dijadikan Hujjah atau dalil dalam suatu hukum, namun tak sepantasnya kita menafikan (meniadakan) hadits dhoif, karena hadits dhoif banyak pembagiannya,

    Dan telah sepakat jumhur para ulama untuk menerapkan beberapa hukum dengan berlandaskan dengan hadits dhoif, sebagaimana Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, menjadikan hukum bahwa bersentuhan kulit antara pria dan wanita dewasa tidak membatalkan wudhu, dengan berdalil pada hadits Aisyah ra bersama Rasul saw yang Rasul saw menyentuhnya dan lalu meneruskan shalat tanpa berwudhu, hadits ini dhoif, namun Imam Ahmad memakainya sebagai ketentuan hukum thaharah.

    Hadits dhoif ini banyak pembagiannya, sebagian ulama mengklasifikasikannya menjadi 81 bagian, adapula yang menjadikannya 49 bagian dan adapula yang memecahnya dalam 42 bagian, namun para Imam telah menjelaskan kebolehan beramal dengan hadits dhoif bila untuk amal shalih, penyemangat, atau manaqib, inilah pendapat yang mu’tamad, namun tentunya bukanlah hadits dhoif yang telah digolongkan kepada hadits palsu.

    Sebagian besar hadits dhoif adalah hadits yang lemah sanad perawinya atau pada matannya, tetapi bukan berarti secara keseluruhan adalah palsu, karena hadits palsu dinamai hadits munkar, atau mardud, Batil, maka tidak sepantasnya kita menggolongkan semua hadits dhaif adalah hadits palsu, dan menafikan (menghilangkan) hadits dhaif karena sebagian hadits dhaif masih diakui sebagai

    ucapan Rasul saw, dan tak satu muhaddits pun yang berani menafikan keseluruhannya, karena menuduh seluruh hadist dhoif sebagai hadits yang palsu berarti mendustakan ucapan Rasul saw dan hukumnya kufur.

    Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang sengaja berdusta dengan ucapanku maka hendaknya ia bersiap siap mengambil tempatnya di neraka” (Shahih Bukhari hadits no.110),

    Sabda beliau SAW pula : “sungguh dusta atasku tidak sama dengan dusta atas nama seseorang, barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka ia bersiap siap mengambil tempatnya di neraka” (Shahih Bukhari hadits no.1229),

    Cobalah anda bayangkan, mereka yang melarang beramal dengan seluruh hadits dhoif berarti mereka melarang sebagian ucapan / sunnah Rasul saw, dan mendustakan ucapan Rasul saw.

    Wahai saudaraku ketahuilah, bahwa hukum hadits dan Ilmu hadits itu tak ada di zamanRasulullah saw, ilmu hadits itu adalah Bid’ah hasanah, baru ada sejak Tabi’in, merekamembuat syarat perawi hadits, mereka membuat kategori periwayat yang hilang dantak dikenal, namun mereka sangat berhati hati karena mereka mengerti hukum, bilamereka salah walau satu huruf saja, mereka bisa menjebak ummat hingga akhir zamandalam kekufuran, maka tak sembarang orang menjadi muhaddits, lain dengan merekaini yang dengan ringan saja melecehkan hadits Rasulullah saw.

    Sebagaimana para pakar hadits bukanlah sebagaimana yang terjadi dimasa kini yangmengaku ngaku sebagai pakar hadits, seorang ahli hadits mestilah telah mencapaiderajat Alhafidh, alhafidh dalam para ahli hadits adalah yang telah hafal 100 ribu haditsberikut hukum sanad dan matannya, sedangkan 1 hadits yang bila panjangnya hanyasebaris saja itu bisa menjadi dua halaman bila ditulis berikut hukum sanad dan hukummatannya, lalu bagaimana dengan yang hafal 100 ribu hadits?.

    Diatas tingkatan Al Hafidh ini masih adalagi yang disebut Alhujjah, yaitu yang hafal 300ribu hadits dengan hukum matan dan hukum sanadnya, diatasnya adalagi yang disebut: Hakim, yaitu yang pakar hadits yang sudah melewati derajat Ahafidh dan Alhujjah,dan mereka memahami banyak lagi hadits hadits yang teriwayatkan.(Hasyiah Luqathuddurar Bisyarh Nukhbatulfikar oleh Imam Al Hafidh Ibn Hajar AlAtsqalaniy).

    Diatasnya lagi adalah derajat Imam, sebagaimana Imam Ahmad bin Hanbal yang hafal1 juta hadits dengan sanad dan matannya, dan Ia adalah murid dari Imam Syafiirahimahullah, dan dizaman itu terdapat ratusan Imam imam pakar hadits.

    Perlu diketahui bahwa Imam Syafii ini lahir jauh sebelum Imam Bukhari, Imam Syafiilahir pada th 150 Hijriyah dan wafat pada th 204 Hijriyah, sedangkan Imam Bukharilahir pada th 194 Hijriyah dan wafat pada 256 Hijriyah, maka sebagaimana sebagiankelompok banyak yang meremehkan Imam syafii, dan menjatuhkan fatwa fatwa Imamsyafii dengan berdalilkan shahih Bukhari, maka hal ini salah besar, karena Imam Syafiisudah menjadi Imam sebelum usianya mencapai 40 tahun, maka ia telah menjadiImam besar sebelum Imam Bukhari lahir ke dunia.

    Lalu bagaimana dengan saudara saudara kita masa kini yang mengeluarkan fatwa danpendapat kepada hadits hadits yang diriwayatkan oleh para Imam ini?, merekamenusuk fatwa Imam Syafii, menyalahkan hadits riwayat Imam Imam lainnya,seorang periwayat mengatakan hadits ini dhoif, maka muncul mereka ini memberifatwa bahwa hadits itu munkar, darimanakah ilmu mereka?, apa yang mereka fahamidari ilmu hadits?, hanya menukil nukil dari beberapa buku saja lalu mereka sudahberani berfatwa, apalagi bila mereka yang hanya menukil dari buku buku terjemah,memang boleh boleh saja dijadikan tambahan pengetahuan, namun buku terjemah inisangat dhoif bila untuk dijadikan dalil.

    Saudara saudaraku yang kumuliakan, kita tak bisa berfatwa dengan buku buku, karenabuku tak bisa dijadikan rujukan untuk mengalahkan fatwa para Imam terdahulu,bukanlah berarti kita tak boleh membaca buku, namun maksud saya bahwa buku yangada zaman sekarang ini adalah pedoman paling lemah dibandingkan dengan fatwa

    fatwa Imam Imam terdahulu, terlebih merubuhkan fatwa para imam adalah buku terjemahan. lagi apabila yang dijadikan rujukan untuk Sungguh buku buku terjemahan itu telah terperangkap dengan pemahaman si

    penerjemah, maka bila kita bicara misalnya terjemahan Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal ini hafal 1 juta hadits, lalu berapa luas pemahaman si penerjemah yang ingin menerjemahkan keluasan ilmu Imam Ahmad dalam terjemahannya?

    Bagaimana tidak, sungguh sudah sangat banyak hadits hadits yang sirna masa kini, bila kita melihat satu contoh kecil saja, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal hafal 1 juta hadits, lalu kemana hadits hadits itu?, Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad haditsnya hanya tertuliskan hingga hadits no.27.688, maka kira kira 970 ribu hadits yang dihafalnya itu tak sempat ditulis…! Lalu bagaimana dengan ratusan Imam dan Huffadh lainnya?, lalu logika kita, berapa juta hadits yang sirna dan tak sempat tertuliskan?, mengapa?

    Tentunya dimasa itu tak semudah sekarang, kitab mereka itu ditulis tangan, bayangkan saja seorang Imam besar yang menghadapi ribuan murid2nya, menghadapi ratusan pertanyaan setiap harinya, banyak beribadah dimalam hari, harus pula menyempatkan waktu menulis hadits dengan pena bulu ayam dengan tinta cair ditengah redupnya cahaya lilin atau lentera, atau hadits hadits itu ditulis oleh murid2nya dengan mungkin 10 hadits yang ia dengar hanya hafal 1 atau 2 hadits saja karena setiap hadits menjadi sangat panjang bila dengan riwayat sanad, hukum sanad, dan mustanadnya.

    Bayangkan betapa sulitnya perluasan ilmu saat itu, mereka tak ada surat kabar, tak ada telepon, tak ada internet, bahkan barangkali pos jasa surat pun belum ada, tak ada pula percetakan buku, fotocopy atau buku yang diperjualbelikan.

    Penyebaran ilmu dimasa itu adalah dengan ucapan dari guru kepada muridnya (talaqqiy), dan saat itu buku hanyalah 1% saja atau kurang dibanding ilmu yang ada pada mereka.

    Lalu murid mereka mungkin tak mampu menghafal hadits seperti gurunya, namun paling tidak ia melihat tingkah laku gurunya, dan mereka itu adalah kaum shalihin, suci dari kejahatan syariah, karena di masa itu seorang yang menyeleweng dari syariah akan segera diketahui karena banyaknya ulama.

    Oleh sebab itu sanad guru jauh lebih kuat daripada pedoman buku, karena guru itu berjumpa dengan gurunya, melihat gurunya, menyaksikan ibadahnya, sebagaimana ibadah yang tertulis di buku, mereka tak hanya membaca, tapi melihat langsung dari gurunya, maka selayaknya kita tidak berguru kepada sembarang guru, kita mesti selektif dalam mencari guru, karena bila gurumu salah maka ibadahmu salah pula. Maka hendaknya kita memilih guru yang mempunyai sanad silsilah guru, yaitu ia mempunyai riwayat guru guru yang bersambung hingga Rasul saw.

    Hingga kini kita ahlussunnah waljamaah lebih berpegang kepada silsilah guru daripada buku buku, walaupun kita masih merujuk pada buku dan kitab, namun kita tak

    berpedoman penuh pada buku semata, kita berpedoman kepada guru guru yang bersambung sanadnya kepada Nabi saw, ataupun kita berpegang pada buku yang penulisnya mempunyai sanad guru hingga nabi saw.

    Maka bila misalnya kita menemukan ucapan Imam Syafii, dan Imam Syafii tak sebutkan dalilnya, apakah kita mendustakannya?, cukuplah sosok Imam Syafii yang demikian mulia dan tinggi pemahaman ilmu syariahnya, lalu ucapan fatwa fatwanya itu diteliti dan dilewati oleh ratusan murid2nya dan ratusan Imam sesudah beliau, maka itu sebagai dalil atas jawabannya bahwa ia mustahil mengada ada dan membuat buat hukum semaunya.

    Maka muncullah dimasa kini pendapat pendapat dari beberapa saudara kita yang membaca satu dua buku, lalu berfatwa bahwa ucapan Imam Syafii Dhoif, ucapan Imam hakim dhoif, hadits ini munkar, hadits itu palsu, hadits ini batil, hadits itu mardud, atau berfatwa dengan semaunya dan fatwa fatwa mereka itu tak ada para Imam dan Muhaddits yang menelusurinya sebagaimana Imam imam terdahulu yang bila fatwanya salah maka sudah diluruskan oleh imam imam berikutnya.

    Sebagaimana berkata Imam Syafii : “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru bagaikan orang yang mengumpulkan kayu baker digelapnya malam, ia membawa pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu” (Faidhul Qadir juz 1 hal 433), berkata pula Imam Atsauri : “Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak punya senjata maka dengan apa kau akan berperang?”, berkata pula Imam Ibnul Mubarak : “Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atap namun tak punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad” (Faidhul Qadir juz 1 hal 433)

    Semakin dangkal ilmu seseorang, maka tentunya ia semakin mudah berfatwa dan menghukumi, semakin ahli dan tingginya ilmu seseorang, maka semakin ia berhati hati dalam berfatwa dan tidak ceroboh dalam menghukumi.

    Maka fahamlah kita, bahwa mereka mereka yang segera menafikan / menghapus hadits dhoif maka mereka itulah yang dangkal pemahaman haditsnya, mereka tak tahu mana hadits dhoif yang palsu dan mana hadits dhoif yang masih tsiqah untuk diamalkan, contohnya hadits dhoif yang periwayatnya maqthu’ (terputus), maka dihukumi dhoif, tapi makna haditsnya misalnya keutamaan suatu amal, maka para Muhaddits akan melihat para perawinya, bila para perawinya orang orang yang shahih, tsiqah, apalagi ulama hadits, maka hadits itu diterima walau tetap dhoif, namun boleh diamalkan karena perawinya orang orang terpercaya, Cuma satu saja yang hilang, dan yang lainnya diakui kejujurannya, maka mustahil mereka dusta atas hadits Rasul saw, namun tetap dihukumi dhoif, dan masih banyak lagi contoh contoh lainnya,

    Masya Allah dari gelapnya kebodohan.. sebagaimana ucapan para ulama salaf : “dalam kebodohan itu adalah kematian sebelum kematian, dan tubuh mereka telah terkubur (oleh dosa dan kebodohan) sebelum dikuburkan”.

    Walillahittaufiq

    Sumber Buku Habib Munzir Al Musawwa “Kenalilah Aqidahmu”

    ::> Abu Tsabit
    Jazakumullah atas kutipan bukunya mudah2an bisa menjadi keterangan tambahan yang bermanfaat…

  12. 12

    Fathuchotihin said,

    Dalam katamaca saya yg sangat awam dan bodoh ini…
    sudah menjadi sunnatullah bagi yg mengamalkan kebaikan akan datang halangan dan rintangan, tapi yg sangat saya sesalkan,mengapa halangan dan rintangan itu datang dari saudara kita sesama muslim?
    Dalam salah satu keterangan : Rosulullah SAW pd waktu sholat subuh di masjid tdk menjumpai Umar Rah,
    maka Rosulullah SAW berkata:” Kenapa Saya Tidak Melihat Umar?”…
    Begitu mulia Baginda Kita Nabi Muhammad SAW, beliau TIDAK berkata :”Kenapa Umar r.a Tidak Sholat?”
    itu artinya Beliau menyalahkan diri, mengapa tidak melihat umar r.a
    Usaha ini, usaha atas iman..! Belajar menyalahkan diri sendiri, bukan menyalahkan orang lain..
    Maaf jika banyak kesalahan dalam penulisan,..

    ::> Fathuchotihin
    Mudah-mudahan kita diberi kemampuan oleh Allah SWT termasuk dalam golongan orang yang selalu melihat kekurangan2 yang ada pada diri kita dan selalu melihat kebaikan2 yang ada pada orang lain…

  13. 13

    danu said,

    duh jd seger…
    dah lama ga kluar nih ane..
    doakan yak!

  14. 14

    rudi said,

    seru tanggapan2 nya, usaha dakwah ini memang sulit dijelaskan dengan kata2, tapi cobalah ikut walau hanya 3 hari insya Allah apa yang jadi perdebatan akan terjawab dengan pemahaman masing2.

    ::> rudi
    Jangan ragu usaha ini usaha untuk semua orang ; kaya-miskin, pandai-bodoh, pejabat-jelata dsb….

  15. 15

    leobovistaburhan said,

    capee dech…….., ILMU UNTUK DI AMALKAN BUKAN UNTUK DIPERDEBATKAN, SILAHKAN AMALKAN HADIST SOHEH SEBAIK-BAIKNYA…..,
    UNTUK MEMOTIVASI SILAHKAN AMBIL HADIST DHOIF…….
    MARI KITA LIHAT DILAPANGAN BERAPA UMAT YANG TELAH KITA BANTU UNTUK RAJIN KEMESJID/ RAJIN BERIBADAH.
    MEREKA YANG AWAM SETELAH MEREKA RAJIN KE MESJID MEREKA DENGAN SENDIRINYA AKAN MENUNTUT ILMU AGAR IBADAHNYA DITERIMA DI SISI ALLAH.
    BILA ALLAH INGIN MEMBERI KEBAIKAN PADA SEORANG HAMBA AKAN DIMUDAHKAN DIA UNTUK PAHAM AGAMA.

    ::> leobovistaburhan
    Mudah2an kita terhindar dari penyakit semacam itu. Marilah kita belajar dengan niat untuk mengamalkan dan menyampaikan kepada saudara kita yang lain..

  16. 16

    RISAU UMAT said,

    BIASANYA ORANG2 YG SERING MENGANGKAT TEMTANG HADIST DOIF ,JAMAHNYA YAHUDI

  17. 17

    Radito said,

    Ana setuju banget dengan akhi Johan, selanjutnya tak ada komentar, terima kasih.

  18. 18

    abdurrahman said,

    wis tala rek ra usah di pikir, ngelu neng sirah…… mesjid akeh sing kosong koq mikiri hadist doip………dakwah jalan teruuuuuuuuuuuuuuuuus.

    ::> abdurrahman
    Setuju, insyaallah…

  19. 19

    fauzi said,

    klo orang punya anak yang dhoif apa orang itu mesti buang anaknya.berharga mana, pak hadis opo anak?apa orang itu cuman memperhatikan anaknya yang normal aja.dua duanya dong mesti diperhatiin. jazakallah

  20. 20

    reza said,

    mana yg penting khuruj ato tholabul ilmi????
    yg jelas tholabul ilmi tdk akan bisa didapat dengan khuruj….
    pmbahasanx hanya itu itu saja,….sdngkan klo kita berlajar (tholabul ilmi)
    akan lebih bnyak pembahasan2 yang dibahas mngenai aturan2 dlm islam….shingga kita lebih mngenal sunnah rasulullah saw….
    dan insyaALLAH kita akan berjalan dgn benar mngikuti pemahaman salafus sholeh,…..

    ::> reza
    Para salafus solihin thalabul ilminya gimana mas ?

  21. 21

    umair said,

    salam kenal akhi, saya punya pengalaman menarik ketika keluar masturoh, kami bertamu pada seorang kawan yang sering mengkritik kurangnya ilmu agama pada jamaah2 yang khuruj. beliau menerima kami dengan baik, juga menyuguhkan makanan dan minuman. sekilas saya perhatikan pada saat minum, beliau minum dengan tangan kirinya semetara tangan kanannya memegang rokok. dalam hati saya membenarkan bayan yang sering disampaikan bahwa untuk memindahkan kebiasaan minum dengan tangan kiri pun perlu hidayah dari Allah.
    teruskan perjuangan, jangan takut kepada celaan orang-orang yang senang mencela

    ::> umair
    Salam kenal kembali, mudah2an Allah SWT selalu memberikan hidayah-Nya kepada kita

  22. 22

    gilang said,

    mudah2n allah menujukan jalan yang benar2 lurus kepada hamba2_Nya yang ingin slalu menjalankan sunah Rosul_Nya

  23. 23

    khairrizqi said,

    saya sependapat dengan pemilik Blog ini dan juga Pak Abu Tsabit! Perbedaan adalah Rahmat 4JJI SWT! Terimakasih!

  24. 24

    khairrizqi said,

    Semoga kita tdk terjebak dengan Syahwat kita yg dikaskan dengan Buroq kendaraan Rosul saw, Wallahu ‘alam Bisshawab!

  25. 25

    Abdullah said,

    Imam Muslim berkata dalam Muqaddimah Shahih Muslim: ”Ketahuilah bahwa yang wajib dilakukan oleh semua orang yang mengetahui cara membedakan antara riwayat yang shohih dengan yang lemah, serta membedakan antara perowi yang tsiqoh dengan yang dusta agar tidak meriwayatkan kecuali yang dia ketahui KESHOHIHAN sanadnya, dan hendaklah dia MENGHINDARI jangan sampai meriwayatkan dari orang-orang yang tertuduh berdusta, para penentang dan ahli bid’ah.” Lalu Imam Muslim menyebutkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lihat pada Kitab beliau karena pembahasan ini sangat penting. (Shohih Muslim 1/6)

    Imam Muslim berhujjah dengan hadits berikut ini: Rasulullah bersabda: ”Barangsiapa yang menceritakan dariku sebuah hadits yang dia SANGKA bahwa hadits itu dusta, maka dia adalah salah satu dari pendusta.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah Kitab Shohih beliau).

    Ibnu Hibban berkata mengomentari hadits riwayat Muslim di atas dalam Kitab Adh-Dhuafa’ 1/7-8 : ”Hadits ini menunjukkan bahwa seorang ahli hadits kalau meriwayatkan sebuah hadits yang tidak shohih dari Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam padahal dia mengetahuinya maka dia termasuk salah satu pendusta, padahal dhohirnya hadits tersebut menjelaskan perkara yang lebih besar lagi, di mana Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Barangsiapa menceritakan dariku sebuah hadits yang dia SANGKA bahwa itu dusta…” dan Rasulullah tidak bersabda : ”Yang dia YAKINI bahwa itu dusta” maka semua orang yang masih ragu-ragu pada apa yang dia riwayatkan apakah hadits itu shohih ataukah tidak, maka dia termasuk dalam ancaman hadits tersebut.”

    Ucapan Ibnu Hibban ini dinukil oleh Imam Ibnu Abdil Hadi dalam Ash-Shorim Al-Munki hal. 165-166 dan beliau menyepakatinya.

    Dari Hafsh bin Ashim ra berkata: Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta, kalau dia menceritakan semua yang dia dengar.” (HR. Muslim 5 dan Abu Dawud 4992)

    Ibnu Hibban berkata lagi dalam Kitab Adh-Dhuafa’ 1/9: ”Hadits ini merupakan ancaman bagi seseorang yang menceritakan semua yang dia dengar sampai dia mengetahui dengan pasti keshohihannya.”

    Orang yang mengamalkan hadits dhoif, ketika ditanya apa dalilnya anda mengamalkan amalan ini, maka ia bisa saja menjawab dengan ucapan: Rasulullah bersabda ”demikian…, demikian..”. Padahal orang yang mengucapkan tersebut mengetahui bahwa hadits ini lemah dan kemungkinan besar hadits ini tidak berasal dari sabda Rasulullah, tetapi mengapa ia mengatakan dengan lantang ”Rasulullah bersabda”.

    Nabi bersabda: ”Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Akan ada pada umatku yang terakhir nanti orang-orang yang menceritakan hadits kepada kalian apa yang belum pernah kalian dan juga bapak-bapak kalian mendengar sebelumnya. Maka waspadalah terhadap mereka dan waspadailah mereka” (Muqaddimah Shahih Muslim).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan ada di akhir zaman para Dajjal Pendusta membawa hadits-hadits kepada kalian yang mana kalian tidak pernah mendengarnya dan bapak-bapak kalian juga belum pernah mendengarnya. Maka kalian jauhilah dan mereka jauhilah. Mereka tidak bisa menyesatkan kalian dan tidak bisa memfitnah kalian.” (Muqaddimah Shahih Muslim).

    Satu contoh saja bahayanya mengamalkan hadits dhoif (di antara sekian banyaknya contoh:
    Riwayat:
    C. Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bersabda: ”Akan tersebar banyak hadits dariku, maka apabila datang kepada kalian sebuah hadits dariku, bacalah Kitab Allah dan pelajarilah, kalau hadits itu sesuai dengan Al-Qur’an maka berarti itu saya katakan, adapun yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an, berarti tidak saya katakan.” (HR. Thabrani dalam Al-Kabir 3/194, hadits lemah)
    Hadits ini memiliki beberapa cacat dari perowinya:
    Pertama: Wadhin, dia orang yang jelek hafalannya
    Kedua: Qotadah bin Fudhoil, Ibnu Hajar berkata dalam Taqrib: “Dia maqbul kalau untuk mutabaah.”
    Ketiga: Abu Hadhir, dikatakan oleh Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi: “Majhul (tidak dikenal)
    Keempat: Zubair bin Muhammad ar-Rohawi, biografinya tidak ditemukan.

    BAHAYANYA mengamalkan hadits ini SANGAT BESAR SEKALI yaitu akan terjerumus ke dalam paham Qur’aniyyin/Inkarus Sunnah. Sehingga orang yang mengamalkan hadits ini, konsekuensinya ia akan
    1. Mengamalkan memakan binatang bertaring dan berkuku tajam (anjing, harimau, serigala, ular, tikus, burung gagak, elang, dsb), cicak, landak, keledai jinak, dsb, dengan alasan bahwa Al-Qur’an (QS. 2: 173) HANYA mengharamkan 4 hal yaitu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan tidak menyebut asma Allah. Padahal As-Sunnah (HR. Bukhari, Muslim, dll) menambah jenis-jenis makanan yang diharamkan selain yang terdapat dalam Al-Qur’an.
    2. Tidak mau mengamalkan mengqashar sholat (yang 4 jadi 2 rekaat) ketika dalam perjalanan dan menyalahkan orang yang mengamalkannya dengan alasan bahwa di dalam Al-Quran (QS. 4: 101) syarat qashar dalam keadaan takut. Padahal dalam As-Sunnah (HR. Muslim 1/478 no 686) telah dijelaskan bahwa walau dalam keadaan aman tetap disunnahkan mengqashar sholat.
    3. Jika laki-laki akan mengamalkan memakai perhiasan emas dengan alasan bahwa Al-Qur’an (QS. 7:32) menghalalkan memakai emas. Padahal dalam As-Sunnah (HR. Hakim), Rasulullah mengharamkan laki-laki memakai emas.
    4. Menolak hadits syafaat tentang keluarnya orang-orang mukmin dari neraka dengan berdalil dari satu sisi ayat Al-Qur’an (QS. 32: 20) tentang tidak adanya syafaat / orang kafir yang masuk neraka tidak akan bisa keluar. Dan masih banyak lagi paham-paham inkarus sunnah yang menolak hadits Nabi jika dhohirnya bertentangan dengan Al-Qur’an atau menolak hadits Nabi yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an.

    Agar tidak menjadi inkarus sunnah, umat Islam harus menerima semua hadits shohih yang datang dari Nabi walaupun dhohir/kelihatannya seperti bertentangan, padahal sebenarnya tidak bertentangan karena hadits Nabi itu memperinci Al-Qur’an yang bersifat umum, menambah hukum Al-Qur’an, atau menjelaskan/menafsirkan Al-Qur’an. Sesuai kaidah yang baku berikut ini.
    “Apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

    Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sungguh, akan aku dapati salah seorang dari kalian bertelekan di atas sofanya/singgasananya, yang apabila sampai kepadanya hal-hal yang aku perintahkan atau aku larang dia berkata, ‘Saya tidak tahu. Apa yang ada dalam Al-Qur`an itulah yang akan kami ikuti” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi –dan ia menshahihkannya-, Ibnu Majah, at-Thahawi dan lainnya dengan sanad yang shahih).

    Dari Jabir bin Abdillah ra. berkata, Rasulullah bersabda: “Mungkin saja ada di antara kalian yang mendengar salah satu dari perkataan saya dalam keadaan berbaring kemudian berkata, ‘Jauhkan kami dari semua ini, kami hanya mengikuti apa yang berasal dari al-Qur’an.” [Al-Khatib, al-Kifayah, 42, dari dua jalur. Jami’ al-Bayan, Ibnu Abdil Bar, jami’ bayan al-ilmi wafadhlihi, 2/189]

    Riwayat yang shahih dari Ibnu Mas’ud ra. yaitu bahwasannya ada seorang wanita yang datang kepadanya kemudian berkata kepadanya : “Kamukah yang berkata bahwa Allah melaknat namishaat (wanita yang mencabut rambut alis) dan mutanaamishaat (wanita yang dicabut rambut alisnya) dan waasyimaat (wanita yang membuat tato) ?”. Ibnu Mas’ud menjawab,”Ya, benar”. Perempuan tadi berkata,”Aku telah membaca Kitabullah dari awal sampai akhir tetapi aku tidak menemukan apa yang kamu katakan”. Maka Ibnu Mas’ud menjawab, ”Jika kamu betul-betul membacanya, niscaya engkau akan menemukannya. Tidakkah engkau membaca: ”Apa-apa yang disampaikan Rasul kepadamu maka ambillah dan apa-apa yang dilarangnya, tinggalkanlah…” (QS. Al-Hasyr : 7). Aku telah mendengar Rasulullah saw.: ”Allah melaknat An-Naamishaat…..” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim].

    Ibnu Qayyim berkata: “Imam Ahmad telah menulis sebuah kitab tentang wajibnya ketaatan kepada Rasulullah, dia membantah pandangan orang yang beragumen dengan ZHAHIR Al-Qur’an untuk menolak sunnah Nabi dan tidak mengakui kekuatan hukum hadits”. (I’laam Al Muwaqi’in ‘An Rabbi Al Alamin 2/290-291).

    Ibnu Abil Izz Al-Hanafi (murid Ibnu Katsir) berkata: “Walaupun dia mengaku atau menganggap mengambil dari Kitabullah tetapi tidak menerima penafsiran Kitabullah dari hadits-hadits Rasul, tidak melihat hadits-hadits, tidak pula melihat perkataan para shahabat dan pengikut mereka yang mengikuti dengan baik (tabi’in)…” (Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah halaman 212 cetakan ke-4).

    Memang benar bahwa terjadi perbedaan pendapat tentang masalah ini. Tetapi yg menjadi hujjah adalah hadits Nabi. Maka kita harus mengikuti pendapat para ulama yg sesuai hadits Nabi karena kecintaan kita kepada Rasulullah, bukan semata-mata hanya mengikuti pendapat para ulama saja.


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: