:: Jalan Sunyi Gerakan Tabligh

Suatu kali, Hafidz Ali Bahadur Khan, seorang pemilik dan editor Alhilal, sebuah surat kabar yang cukup populer terbitan Bombay (sekarang Mumbay) datang berziarah kepada Maulana Ilyas Kandahlawy saat maradhul wafatnya. Meskipun dalam keadaan yang sangat  lemah, Maulana Ilyas tetap menyempatkan diri untuk  berbincang-bincang dengannya sekitar setengah jam.

Hafidz Ali Bahadur Khan sangat terkesan dengan pertemuan singkat tersebut. Ketika pulang ke Bombay, dia kemudian membuat tulisan yang sangat baik tentang sepak terjang Maulana Ilyas dan gerakan dakwahnya. Ulasannya itu dimuat secara serial di harian yang dipimpinnya.

Maulana Manzur Nu’mani, salah seorang sahabat Maulana Ilyas dan penulis Malfudhat beliau, sangat bergembira membaca tulisan-tulisan tersebut, dia mengira Maulana Ilyas pun akan sangat bergembira membaca tulisan semacam itu.

Maka dalam suatu kesempatan, Maulana Manzur Nu’mani melaporkan liputan  tersebut kepada Maulana Ilyas, “Hafidz Ali Bahadur Khan dari Bombay yang datang beberapa waktu lalu. Alhamdulillah, telah mendapat kesan yang cukup baik. Di dalam surat kabarnya, dia telah menulis beberapa perkara mengenai usaha kita, dia mengakui betapa penting dan mulianya usaha dakwah ini. Nampaknya dia telah memahami usaha ini dengan sungguh-sungguh. Jika Engkau ingin mendengarkan, boleh saya membacakan beberapa bagian tulisan itu !”. Apa reaksi Maulana Ilyas ?

Berlawanan dengan perkiraan Maulana Manzur Nu’mani, Maulana Ilyas justru berkata,  “Apa gunanya kita berbicara tentang pekerjaan yang telah kita lakukan ? Yang seharusnya dilakukan adalah memikirkan pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya kita lakukan dan yang belum kita selesaikan. Untuk pekerjaan yang sudah dilakukan, pekerjaan kita adalah mencari kekurangan-kekurangannya, kekurangan dalam keikhlasan, dalam berdzikir kepada Allah, dalam adab-adab setiap amalan dan dalam menghayati sunnah Nabi SAW !”

“Tanpa melakukan hal itu, maka pembicaraan mengenai hal-hal yang sudah dilakukan dan juga bergembira atasnya adalah seperti seorang yang berjalan menuju suatu tujuan, tetapi sebelum sampai pada tempat yang dituju,  dia telah banyak menengok ke belakang dan merasa bahwa dia telah merasa berjalan begitu jauh !”

“Janganlah kita menengok kepada salah seorang yang sudah memahami usaha kita, tetapi tengoklah berapa juta orang yang masih belum sampai kepada mereka seruan dakwah dan berapa banyak pula orang yang sudah mengenal usaha dakwah tetapi belum mengambil bagian usaha dakwah ini yang disebabkan karena kekurang sungguhan kita semua.”

***

Sampai saat ini, penggunaan media seperti majalah, surat kabar, televisi, internet, radio, spanduk  serta pengerahan massa seperti melalui tabligh akbar atau demontrasi memang tidak digalakkan dalam usaha Dakwah dan Tabligh.

Yang tetap digalakkan adalah gerak dan pengorbanan harta dan diri dari setiap ahli jamaah. Setiap ahli jamaah diminta untuk meluangkan waktu untuk berlatih memperbaiki diri dan menawarkan agama kepada orang lain, kemudian setelah pulang menghidupkan suasana agama di tempat tinggal mereka. Siang hari banyak berjumpa dengan manusia, malam hari banyak mengadukan kelemahan diri dan bermunajat kepada Allah SWT, agar menurunkan hidayah-Nya di seluruh alam.

Berbagai media tersebut boleh-boleh saja digunakan sebagai sarana dakwah, tetapi yang namanya musyawarah harian, sillaturahim 2,5 jam, ta’lim rumah dan masjid, jaulah I dan II serta keluar 3 hari, 40 hari atau 4 bulan, tetap tak bisa digantikan dan semuanya harus dilakukan.

Tanpa banyak gembar-gembor, publikasi dan liputan media massa, jamaah-jamaah  akan tetap dan terus dikirim ke seluruh penjuru dunia ; ke gunung-gunung, hutan, pelosok desa terpencil, pinggiran kota, pusat-pusat kota dunia, sampai wilayah kutub utara dan selatan pun tak terlewatkan. Bahkan andaikata bulan dan mars sudah bisa dihuni, jamaah insya allah juga akan dikirim ke sana.

Seperti kata orang Jawa, mereka semua insya allah sedang belajar mengamalkan filsafat hidup sepi ing pamrih rame ing gawe atau dalam bahasa mereka tashhihunniyat, mensucikan niat dalam setiap gerak dan langkah, semata-mata mengharap keridloan Allah SWT. Wallahu a’lam

4 Responses so far »

  1. 1

    nexlaip said,

    assalammualaikum mas, saya tertarik dengan tulisan ini boleh saya copy paste dan saya masukkan dalam blog saya?

    >> nexlaip :
    Waalaikum salam, Silahkan kutip dan ambil semua yang ada di blog saya, kalau dipandang bermanfaat. Jazakumullah atas kunjungannya

  2. 2

    Assalamu Alaikum WrWb Maaf pak saya juga ikutan copy paste ya…soalnya yang lain gak adil menilai usaha da`wah….Jazakumullah Khoir Agustus ijtima` keluar ya…?

    >> karkun satu hari :
    Wassalamu ‘alaikum wr wb
    Silahkan, mudah-mudahan bermanfaat. Insya allah keluar IPB. Mudah-mudahan ketemu ya di Ijtima’

  3. 4

    Tauhid Arif said,

    Alhamdulilah benar-benar seorang Dai.

    ::> Tauhid Arif
    Insyaallah kita banyak bersuhbah kepada para masyaikh yang telah banyak berkorban untuk agama


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: